Nama: Hilmy Yuarifki
NIM: 15.E1.0079
kelas: 02
Dosen pembimbing: Greg Daru
TOLERANSI BERAGAMA
Sebagai makhluk sosial manusia mutlak membutuhkan
sesamanya dan lingkungan sekitar untuk melestarikan eksistensinya di
dunia. Tidak ada satu pun manusia yang mampu bertahan hidup dengan tanpa
memperoleh bantuan dari lingkungan dan sesamanya.
Dalam konteks ini, manusia harus selalu menjaga
hubungan antar sesama dengan sebaik-baiknya, tak terkecuali terhadap
orang lain yang tidak seagama, atau yang lazim disebut dengan istilah
toleransi beragama.
Toleransi beragama berarti saling menghormati dan
berlapang dada terhadap pemeluk agama lain, tidak memaksa mereka
mengikuti agamanya dan tidak mencampuri urusan agama masing-masing.
Ummat Islam diperbolehkan bekerja sama dengan pemeluk agama lain dalam
aspek ekonomi, sosial dan urusan duniawi lainnya. Dalam sejarah pun,
Nabi Muhammad Shollallahu alaihi wasallam telah memberi teladan mengenai
bagaimana hidup bersama dalam keberagaman. Dari Sahabat Abdullah ibn
Amr, sesungguhnya dia menyembelih seekor kambing. Dia berkata, “Apakah
kalian sudah memberikan hadiah (daging sembelihan) kepada tetanggaku
yang beragama Yahudi? Karena aku mendengar Rasulullah berkata, “Malaikat
Jibril senantiasa berwasiat kepadaku tentang tetangga, sampai aku
menyangka beliau akan mewariskannya kepadaku. (HR. Abu Dawud).
Sesungguhnya ketika (serombongan orang membawa) jenazah melintas di
depan Rasulullah, maka beliau berdiri. Para Sahabat bertanya,
“Sesungguhnya ia adalah jenazah orang Yahudi wahai Nabi? Beliau
menjawab, “Bukankah dia juga jiwa (manusia)? (HR. Imam Bukhari).
Sesungguhnya Nabi Muhammad Shollallahu alaihi wasallam berhutang makanan
dari orang Yahudi dan beliau menggadaikan pakian besi kepadanya. (HR.
Imam Bukhari).
Pengertian toleransi beragama : Tidak Ada Paksaan dalam Beragama
Dalam soal beragama, Islam tidak mengenal konsep
pemaksaan beragama. Setiap diri individu diberi kelonggaran sepenuhnya
untuk memeluk agama tertentu dengan kesadarannya sendiri, tanpa
intimidasi.
Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman
semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak)
memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?
Dan tidak ada seorangpun akan beriman kecuali dengan izin Allah; dan
Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan
akalnya. (QS. Yunus; 99-100). Dan katakanlah: “Kebenaran itu datangnya
dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia
beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir”.
Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang-orang zalim itu neraka, yang
gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya
mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang
menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat
istirahat yang paling jelek. (QS. Al Kahfi; 29)
Persoalan keyakinan atau beragama adalah terpulang
kepada hak pilih orang per orang, masing-masing individu, sebab Allah
Subhanahu wataala sendiri telah memberikan kebebasan kepada manusia
untuk memilih jalan hidupnya. Manusia oleh Allah Subhanahu wataala
diberi peluang untuk menimbang secara bijak dan kritis antara memilih
Islam atau kufur dengan segala resikonya. Meski demikian, Islam tidak
kurang-kurangnya memberi peringatan dan menyampaikan ajakan agar manusia
itu mau beriman
Dalam sebuah Hadits, riwayat Ibnu Abbas, seorang
lelaki dari sahabat Anshar datang kepada Nabi, meminta izin untuk
memaksa dua anaknya yang beragama Nasrani agar beralih menjadi muslim.
Apa jawab Nabi? Beliau menolak permintaan itu, sambil membacakan ayat
yang melarang pemaksaan seseorang dalam beragama, yaitu Surah
Al-Baqarah: 256:”Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam);
sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat.
Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada
Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat
kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha
Mengetahui. (QS. Al Baqarah; 256)
toleransi didasarkan atas prinsip-prinsip :
bertetangga baik,saling membantu dalam menghadapi musuh bersama,membela mereka yang teraniaya,saling menasehati, dan menghormati kebebasan beragama.
Ajaran Islam tentang toleransi beragama atau hubungan antar ummat beragama ini meliputi lima ketentuan, yakni :
Pertama, tidak ada paksaan dalam agama, "Tidak ada paksaan dalam agama (karena) sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dari jalan yang salah." (Q.S. Al-Baqarah : 256).
Kedua, mengakui eksistensi agama lain serta menjamin adanya kebebasan beragama, sebagaimana digariskan dalam Q.S. Al-Kafirun : Katakanlah : "Wahai orang-orang kafir! Aku tidak akan menyembah apa yang kalian sembah dan kalian bukan penyembah Tuhan yang aku sembah.
Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kalian sembah, dan kalian tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untuk kalian agama kalian dan untukku agamaku." (Q.S. Al-Kafirun 1-6).
Ketiga, tidak boleh mencela atau memaki sesembahan mereka (Q.S. Al-An'am : 108).
Keempat, tetap berbuat baik dan berlaku adil selama mereka tidak memusuhi (Q.S. Al-Mumtahanah 8-9; Q.S. Fushshilat : 34).
Kelima, memberi perlindungan atau jaminan keselamatan. Pesan Nabi صلى الله عليه وسلم ,"Barangsiapa menyakiti orang dzimmi berarti ia menyakiti diriku!"
Dari ayat-ayat di atas, jelaslah bahwa toleransi yang diajarkan Islam bukanlah toleransi yang pasif -- yang sekedar "menenggang, lapang dada dan hidup berdampingan secara damai" -- tapi lebih luas lagi; bersifat aktif dan positif, yakni untuk berbuat baik dan berlaku adil.
Agama Islam juga mengakui adanya orang-orang ahli kitab yang baik dan perlunya perlindungan tempat-tempat ibadah agama lain (Q.S. Al-Ma'idah: 82; Q.S. Al-Hajj : 40).
Toleransi dalam Islam adalah otentik. Artinya tidak asing lagi dan bahkan mengeksistensi sejak Islam itu ada. Karena sifatnya yang organik, maka toleransi di dalam Islam hanyalah persoalan implementasi dan komitmen untuk mempraktikkannya secara konsisten.
Namun, toleransi beragama menurut Islam bukanlah untuk saling melebur dalam keyakinan. Bukan pula untuk saling bertukar keyakinan di antara kelompok-kelompok agama yang berbeda itu. Toleransi di sini adalah dalam pengertian mu’amalah (interaksi sosial). Jadi, ada batas-batas bersama yang boleh dan tak boleh dilanggar. Inilah esensi toleransi di mana masing-masing pihak untuk mengendalikan diri dan menyediakan ruang untuk saling menghormati keunikannya masing-masing tanpa merasa terancam keyakinan maupun hak-haknya.
Syari’ah telah menjamin bahwa tidak ada paksaan dalam agama. Karena pemaksaan kehendak kepada orang lain untuk mengikuti agama kita adalah sikap a historis, yang tidak ada dasar dan contohnya di dalam sejarah Islam awal. Justru dengan sikap toleran yang amat indah inilah, sejarah peradaban Islam telah menghasilkan kegemilangan sehingga dicatat dalam tinta emas oleh sejarah peradaban dunia hingga hari ini dan insyaallah di masa depan.
source:berbagai sumber
Yaaaa saya sangat setuju dengan sikap toleransi diantara kami semua.
BalasHapusToleransi sangat perlu dengan umat beragama dan berbeda agama...
BalasHapusagar tercapai kedamaian dalam kehidupan...
Menurut Anda, bagaimana mewujudkan toleransi secara konkret? Thank you
BalasHapusdengan cara tidak melakukan sara maka akan ada nya toleransi dan tidak membuat perbedaan menjadi suatu masalah
Hapussemoga dari adanya blog anda. semua agama dapat saling bertoleransi satu sama lain dan menghilangkan paradigma yang selama ini dapat dikatakan salah kaprah, semoga :)
BalasHapusSecara keseluruhan isinya sangat menarik.Lalu menurut anda, Bagaimana pandangan tentang kedamaian yang dikaji dari sudut pandang keyakinan anda?
BalasHapusya kedamaian menurut saya ya kedamaian terhadap diri kita sendiri.... jika kita yakin dengan agama yang kita miliki maka kita akan merasa damai dengan diri kita... sebalik nya jika kita tidak yakin dengan hal yg harus kita yakini maka kita akan bentrok dengan diri kita sendiri karena kita tidak yakin terhadap hal yg harus kita yakini dan kita percayai
Hapussaya sangat setuju dengan toleransi agama karena di dunia ini tidak hanya ada satu agama kita sebagai mahluk sosial harus saling membantu apalagi dalam beragama....terima kasih hilmy karena tulisan kamu saya jadi lebih termotivasi untuk menjaga kerukunan antar umat beragama
BalasHapusartikel yang sangat menginspirasi, thx :)
BalasHapusHilmy! Tulisan yang menginspirasi.
BalasHapusTerus Berkarya ya.
God Bless You. :)
Thank you,artikel yang sangat menginspirasi. Godbless
BalasHapusnice article hilmy! sangat bermanfaat dan menginspirasi
BalasHapusTerima kasih artikel ini sangat baik sekali
BalasHapusArtikel yang bagus sangat memberi pengetahuan baru
BalasHapuslanjutkan karya nya....
Junjung tinggi toleransi kesampingkan fanatik
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusToleransi sangat diperlukan dlm beragama untuk mewujudkan perdamaian
BalasHapusya sangat setuju dengan artikel ini karena kita harus saling toleransi antar umat agama
BalasHapussangat bagus artikel ini lanjutkan karya terbaik anda
BalasHapusBagus anak muda artikel ini berbobot
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusToleransi Agama , dua kata yang sederhana tapi penuh makna dan sangat bernilai untuk memimpin,membangun,dan menerangi dunia yang penuh dengan kedamaian dan kenyamanan . tetap semangat dan tingkatkan terus pemikiranmu untuk membuka jalan bagi kita semua untuk dunia seperti itu !
BalasHapusSemoga orang" bukan hanya membaca tapi mengamalkan di masyrakat untuk membuat masyarakat yang madani
BalasHapusMantap.. Saya sangat setuju
BalasHapusblognya bermanfaat banget buat kita semua . keren! <3
BalasHapusTerimakasih infonya, semoga bermanfaat buat kita semua
BalasHapuslanjutkan karya terbaik anda
BalasHapusNice artikel, toleransi memang dibutuhkan pada setiap zaman
BalasHapusToleransi sangatlah di butuhkan kita semua
BalasHapusartikel yang sangat baik semoga bermanfaat bagi kita semua
BalasHapus