Minggu, November 29, 2015

Salatiga Kota Toleransi

Nama : Hilmy Yuarifki
Nim : 15.E1.0079
Dosen Pembimbing : Gregorious Daru Wijoyoko
SALATIGA - Satu-satunya kota di Pulau Jawa yang memberikan harapan bahwa masih ada kota toleran di Indonesia khususnya Jawa. Salatiga menjadi kota paling toleran di Pulau Jawa berdasarkan survey Setara Institute pada tahun 2015 yang diprakarsai oleh Arief Aminuddin dan mendapat respon positif serta dukungan dari Kementerian Keagamaan, Lukman Hakim, kegiatan ini dilakukan dalam rangka untuk memperingati Hari Toleransi Internasional. Sikap toleransi di Kota Salatiga tidak lepas dari budaya dan keaktifan masyarakat yang saling bergotong royong dalam berbagai kegiatan sosial, peran aktif pemerintah Salatiga, dan perjuangan Lembaga Masyarakat, seperti FKUB (Forum Kerukunan Umat Beragama) sebagai simbol kerukunan di Salatiga yang diketuai Drs KH Tamam Qoulani yang juga bertujuan sebagai perekat seluruh umat beragama di Salatiga dan didukung oleh Majelis Puasa (Persatuan Umat Agama Salatiga). Selain itu hadirnya UKSW, IAIN Salatiga dan kampus nasional lainnya yang menghadirkan mahasiswa dari seluruh pelosok Indonesia juga menjadikan Salatiga sebagai ikon akan persatuan nasional dengan kekayaan keberagaman suku, budaya dan agama di Indonesia yang tetap bersatu dalam nafas Bhineka Tunggal Ika.
Salah satu contoh toleransi paling nyata bisa dilihat di lapangan Pancasila, masjid raya Darul Amal yang berada di kawasan yang sama dengan Gereja Kristen Jawa Salatiga Utara dan HKBP. Di Jalan Jendral Sudirman, masjid Pandawa berhadapan dengan Gereja Kristen Indonesia.
Masjid Kauman di Jl KH Wahid Hasyim juga berlokasi tidak jauh dari Gereja Kristen Jawa. Tak hanya itu, masih ada beberapa kawasan yang bercirikan seperti itu. Itu baru soal bangunan, soal saling mendukung kegiatan beragama masing-masing pun juga tinggi. Paling tidak ini terlihat saat mereka saling meminjamkan lahan untuk parkir ketika perayaan hari raya.
”Bahkan, saat pengajian Ahad pagi di Masjid Pandawa, yang dimulai pukul 06.00, saat pukul 07.00 ketika kebaktian gereja dimulai, saat itu juga pengajian selesai untuk menghormati umat di gereja yang sedang kebaktian. Jadi toleransinya sangat tinggi,” ungkap Anggota DPRD Kota Salatiga Fathurrahman, kemarin.
Kota yang mendapat julukan Indonesia mini ini sejak awal memang sangat harmonis, dan kedatangan mereka bukan merusak apa yang ada, justru menjadi daya dorong lebih tinggi akan jati diri toleran yang ada di Salatiga. Hampir tidak ada soal-soal gesekan agama yang ada di Salatiga. Hampir tidak ada masalah sosial, soal agama, dan ras yang terjadi di Salatiga. Budaya sendiri tidak kalah dan budaya pendatang tidak meniadakan dan justru membantu pembangunan karakter di Salatiga yang sejuk. Kota kecil dengan dinamika ras dan agama yang beragam dan kuat masing-masing sehingga tidak saling meniadakan namun justru semakin menguatkan. Sosialitas yang baik dan hangat menjadi benteng bagi Salatiga untuk terbuka. Kondisi geografis perlintasan kota besar juga sangat mendukung keadaan harmonis dengan toleransinya. maka sungguh memang selayaknya Indonesia meniru kerukukan beragama di Kota Harmoni ini.
Actual Salatiga City News - ASCN
Salatiga, Kota Paling Toleran Di Pulau Jawa
SALATIGA - Satu-satunya kota di Pulau Jawa yang memberikan harapan bahwa masih ada kota toleran di Indonesia khususnya Jawa. Salatiga menjadi kota paling toleran di Pulau Jawa berdasarkan survey Setara Institute pada tahun 2015 yang diprakarsai oleh Arief Aminuddin dan mendapat respon positif serta dukungan dari Kementerian Keagamaan, Lukman Hakim, kegiatan ini dilakukan dalam rangka untuk memperingati Hari Toleransi Internasional. Sikap toleransi di Kota Salatiga tidak lepas dari budaya dan keaktifan masyarakat yang saling bergotong royong dalam berbagai kegiatan sosial, peran aktif pemerintah Salatiga, dan perjuangan Lembaga Masyarakat, seperti FKUB (Forum Kerukunan Umat Beragama) sebagai simbol kerukunan di Salatiga yang diketuai Drs KH Tamam Qoulani yang juga bertujuan sebagai perekat seluruh umat beragama di Salatiga dan didukung oleh Majelis Puasa (Persatuan Umat Agama Salatiga). Selain itu hadirnya UKSW, IAIN Salatiga dan kampus nasional lainnya yang menghadirkan mahasiswa dari seluruh pelosok Indonesia juga menjadikan Salatiga sebagai ikon akan persatuan nasional dengan kekayaan keberagaman suku, budaya dan agama di Indonesia yang tetap bersatu dalam nafas Bhineka Tunggal Ika.
Salah satu contoh toleransi paling nyata bisa dilihat di lapangan Pancasila, masjid raya Darul Amal yang berada di kawasan yang sama dengan Gereja Kristen Jawa Salatiga Utara dan HKBP. Di Jalan Jendral Sudirman, masjid Pandawa berhadapan dengan Gereja Kristen Indonesia.
Masjid Kauman di Jl KH Wahid Hasyim juga berlokasi tidak jauh dari Gereja Kristen Jawa. Tak hanya itu, masih ada beberapa kawasan yang bercirikan seperti itu. Itu baru soal bangunan, soal saling mendukung kegiatan beragama masing-masing pun juga tinggi. Paling tidak ini terlihat saat mereka saling meminjamkan lahan untuk parkir ketika perayaan hari raya.
”Bahkan, saat pengajian Ahad pagi di Masjid Pandawa, yang dimulai pukul 06.00, saat pukul 07.00 ketika kebaktian gereja dimulai, saat itu juga pengajian selesai untuk menghormati umat di gereja yang sedang kebaktian. Jadi toleransinya sangat tinggi,” ungkap Anggota DPRD Kota Salatiga Fathurrahman, kemarin.
Kota yang mendapat julukan Indonesia mini ini sejak awal memang sangat harmonis, dan kedatangan mereka bukan merusak apa yang ada, justru menjadi daya dorong lebih tinggi akan jati diri toleran yang ada di Salatiga. Hampir tidak ada soal-soal gesekan agama yang ada di Salatiga. Hampir tidak ada masalah sosial, soal agama, dan ras yang terjadi di Salatiga. Budaya sendiri tidak kalah dan budaya pendatang tidak meniadakan dan justru membantu pembangunan karakter di Salatiga yang sejuk. Kota kecil dengan dinamika ras dan agama yang beragam dan kuat masing-masing sehingga tidak saling meniadakan namun justru semakin menguatkan. Sosialitas yang baik dan hangat menjadi benteng bagi Salatiga untuk terbuka. Kondisi geografis perlintasan kota besar juga sangat mendukung keadaan harmonis dengan toleransinya. maka sungguh memang selayaknya Indonesia meniru kerukukan beragama di Kota Harmoni ini.

12 komentar:

  1. Nice untuk salatiga
    Kita patut berbahagia...dengan toleransi itu...

    BalasHapus
  2. Bagus sekali toleransinya
    sangat mencerminkan toleransi umat beragama yang ada di indonesia

    BalasHapus
  3. Cukup mengejutkan ternyata salatiga kota yang patut dicontoh!!!!

    BalasHapus
  4. dgn info seperti ini, kita bisa mencontohnya di kota tmp tinggal kita masing-masing

    BalasHapus
  5. Harusnya semarang kalau sudah bisa toleransi antar suku dan ras perlu di contoh juga dikuatkan lagi toleransi antar agama agar semakin komplit

    BalasHapus
  6. Harusnya semarang kalau sudah bisa toleransi antar suku dan ras perlu di contoh juga dikuatkan lagi toleransi antar agama agar semakin komplit

    BalasHapus
  7. Seharusnya kita dapat melakukan toleransi yang baik seperti artikel ini

    BalasHapus
  8. artikel yang baik lanjutkan karya anda

    BalasHapus
  9. terimakasih informasinya kak, ternyata salatiga masuk kedalam kota yang penuh budaya dan juga toleransi

    BalasHapus
  10. Luar biasa ternyata salatiga, kita selama ini hanya mengenal dari sisi alamnya saja ternyata masyarakatnya sangat bertoleransi

    BalasHapus
  11. kita patut mencontoh dari toleransi ini

    BalasHapus